Langsung ke konten utama

MEMAHAMI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN

 Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya Hasibah (11901019) dari kelas PAI 4F.

Pada Blog saya kali ini saya akan menulis tentang MEMAHAMI KARAKTERISTIK PESERTA DIDIK DALAM PROSES PEMBELAJARAN

Selamat membaca ya

Muncul berbagai pertanyaan di seputar “apa hakekat anak didik”. Beberapa pertanyaan penting yang patut dimunculkan adalah: Apakah hakekat anak sebagai anak didik? Mengapa anak didik perlu dipahami? Bagaimana perkembangan jiwa anak sebagai anak didik sehingga dapat dididik dengan baik? Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu penting mendapat jawaban. Dalam UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dinyatakan bahwa Pendidikan dipahami sebagai usaha sadar dan terencana dalam rangka mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran. Proses pembelajaran berorientasi pada peserta didik untuk mengembangkan potensi yang dimiliki seperti memiliki ; [1] kekuatan spiritual keagamaan; [2] pendendalian diri; [3] kepribadian; [4] kecerdasan; [5] akhlak mulia; dan [6] keterampilan (Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003). Elemen penting dalam Undang-Undang Sistem Pendidkan Nasional ini menjadi barometer keberhasilan pembelajaran dan dunia pendidikan nasional. Artinya, sistem pendidikan nasional bertanggung jawab dalam menentukan masa depan anak-anak. Masa depan mereka akan menentukan masa depan bangsa. Untuk itu, memahami anak didik perlu dilakukan secara komprehensif. Dalam pendekatan pembelajara modern, anak bukanlah obyek pembelajaran. Anak menjadi faktor penting pembelajaran dan sekaligus menjadi subyek pembelajaran Anak hidup dan dibentuk dalam lingkungan yang beragam. Goldin–Meadow (2008) menyebutkan bahwa lingkungan akan mempengaruhi anak dalam berbagai dimensi. Diantara pengaruh yang jelas dan dapat diobservasi adalah bagaimana seorang anak berkembang dan belajar dari lingkungan. Untuk itu, dalam proses pendidikan modern, anak didik tidak dipandang sebagai obyek pembelajaran, tetapi anak didik adalah subyek pembelajaran. Sebagai subyek pembelajaran, anak menjadi pusat pembelajaran. Anak didik berada dalam fase yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan. Untuk mengarahkan fase-fase tersebut, anak didik perlu mendapat bantuan dari para tenaga pendidik, termasuk orang tua bahkan masyarakat. Banyak pakar Pendidikan telah menjelaskan tentang hakekat anak didik dan kemampuan potensial yang dimiliki anak. Menurut Conny R. Semiawan, manusia belajar, tumbuh dan berkembang dari pengalaman yang diperolehnya. Setiap anak dilahirkan dengan perbedaan kemampuan, bakat dan minat. Berbagai perbedaaan tersebut merupakan faktor yang ikut mempengaruhi prestasi belajar anak. Untuk itu anak diberikan kesempatan mendapatkan apa yang diinginkan sehingga anak dapat berkembang seoptimal mungkin sesuai dengan kemampuan, bakat dan minatnya masing-masing. Perbedaan-perbedaan tersebut harus diperhatikan

Bila diamati, implikasi perspektif biologi dalam pembelajaran dapat berdampak dan berkembang. Implikasi biologi akan menimbulkan sisi positif seperti; [1] setiap segmen instruksional menggunakan beberapa modalitas dan beberapa jalur sensorik. Semua pembelajaran dapat memperkaya masukan multiindrawi; [2] memperkaya dengan cara membuat dan mempertahankan lingkungan belajar yang kondusif. Lingkungan belajar yang menarik akan menghidupkan inovasi pembelajaran; [3] memperkuat fungsi belahan otak dan mengakui bahwa perkembangan otak bervariatif dan tidak sama pada setiap siswa. Pembelajaran – dalam pandangan kognitif-- memposisikan anak bahwa belajar anak sesuai dengan kemampuan kognisi yang ada dalam dirinya. Karakteristik yang dimiliki anak tidak dapat terlepas dari perkembangan kognitifnya. Kognitif tersebut dapat mempengaruhi jenis gaya belajar yang dimiliki setiap anak. Gaya belajar ini juga sangat berpengaruh pada anak dalam menentukan cara anak dlam mempelajari sesuatu.

Tenaga pendidik (guru) memegang peran penting dalam proses pembelajaran di kelas dan bahkan dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di sebuah sekolah, daerah, dan nasional. Guru sebagai komponen kunci dalam proses pendidik dituntut untuk mampu menyelenggarakan proses pembelajaran yang mendidik. Peran besar inilah yang dituntut dari guru, khususnya dalam pembentukan karakter anak maupun karakter bangsa. Karakter yangdiharapkan bukan hanya memiliki kecerdasan dan keterampilan, tetapi karakter akhlak mulida dan spritualitas-keagamaan. Dalam menggapai tujuan itu, implikasi proses belajar diarahkan pada proses pembelajara yang berorientasi pada anak didik.

Hal-hal penting yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu: Membangun komunikasi verba, menjadi Figur yang baik, erhati-hati dalam menyimpulkan karakter peserta didik, mengenal tanda-tanda keanehan peserta didik, dan bersifat terbuka Menguasai karakteristik peserta didik berhubungan dengan kemampuan guru dalam memahami kondisi anak didik. Anak dalam dunia pendidikan modern adalah subyek dalam proses pembelajaran. Anak tidak dilihat sebagai obyek pendidikan, karena anak merupakan sosok individu yang membutuhkan perhatian dan sekaligus berpartisipasi dalam proses pembelajaran. Anak juga memiliki karakteristik tersendiri yang berbeda satu dengan yang lainnya baik dari segi minat, bakat, motivasi, daya serap mengikuti pelajaran, tingkat perkem- bangan, tingkat inteligensi, dan memiliki perkembangan sosial tersendiri.

Para praktisi pembelajaran terus berupaya mengembangkan model-model pembelajaran yang mampu mengoptimalkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran. Sebagaimana disebutkan di awal, indikator karakteristik anak dapat ditinjau dari beberapa factor. Faktor utama dapat dilakukan melalui;

Pertama, mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya. Walaupun sistem pembelajaran kita (Indonesia) masih menganut sistem klasikal, namun karakteristik perbedaan dan persamaan individual penting diperhatikan oleh guru. Identifikasi tidak hanya tertumpu pada aspek fisik, seperti berat badan, jenis kelamin, kelainan fisik, namun identifikasi nonfisik tidak dapat diabaikan. Karakteristik nonfisik dapat berupa mental, emosional, potensi/bakat, termasuk disabilitas mental. 

Kedua, semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran. Kesempatan diberikan kepada semua peserta dalam proses pembelajaran. Guru perlu menjamin untuk tidak adanya deskriminasi perlakuan dalam proses pembelajaran. Untuk mewujudkan ini, guru perlu menggunakan berbagai pendekatan, metode, dan model-model pembelajaran. 

Ketiga, mengelola kelas. Penempatan kursi akan lebih berarti bagi terciptana pembelajaran yang baik. Kelas perlu mempertimbangkan jumlah peserta didik, materi, dan metode yang akan digunakan. Hendaknya, format kursi danlam ruangan dapat dirubah. Bahkan pembelajaran tidak selamanya dilakukan dalam kelas. Penempatan kursi dapat berpengaruh pada partisipasi belajar anak. Pengaturan kursi semakin dibutuhkan apabila ada peserta didik mengalami kelainan fisik. Hal-hal yang seperti ini kurang diperhatikan dalam proses pembelajaran. Padahal, prinsip pembelajaran modern adalah memberikan kesempatan yang sama bagi semua peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik. 

Keempat, mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik. Guru tidak hanya menyampaikan pembelajaran yang bersifat kognitif. Guru perlu memperhatikan kelainan perilaku anak. Guru juga harus bertindak sebagai konselor. Penyimpangan perilaku tidak dapat dibiarkan. Penyimpangan perilaku perlu diobservasi dan didiagnostik. Bila guru tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang perilaku, maka guru perlu bekerjasama dengan guru lain, seperti guru Bimbingan dan Konseling. 

Kelima, membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik. Potensi anak didik dapat dilakukan dengan melakukan berbagai tes kepribadian dan tes bakat minat. Namun persoalan besar dalam system pembelajaran kasikal, potensi, bakat dan minat kurang dieksplorasi sebagai penciri karakteristik anak. 

Keenam, memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu. Kelemahan fisik dapat diantisipasi melalu pengaturan kelas yang beorientasi pada kebutuhan anak. Bila ini diabaikan, maka anak yang mengalami kelainan fisik sulit mengikuti aktivitas pembelajaran. Dampaknya, peserta didik tersebut termarginalkan (tersisihkan, diolok‐olok, minder, dan lain sebagainya). Banyak kejadian dalam dunia penddikan, sikap malu, takut, dan merasa tersisih, diakibatkan oleh perilaku teman kelas.

Komentar